|

Games

More on this category »
  Musik

More on this category »

Blogger

More on this category »
  Wira Usaha

More on this category »

Misteri

More on this category »

Olah Raga

More on this category »
Posting Terbaru

Tampilkan postingan dengan label Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia. Tampilkan semua postingan

Suku Pedalaman Amazon Tak Kenal Konsep Waktu

Written By. Admin on 1 Juni 2011 | 23.04.00

Ilmuwan menemukan sebuah suku di pedalaman Brasil. Uniknya, semua orang dari suku ini tak memiliki usia dan tak mengenal konsep waktu, termasuk bulan atau tahun.

Suku Amondawa berada di wilayah terpencil Amazon,
Rondonia. Profesor University of Portsmouth, Chris Sinha, mengklaim, pertama kalinya ilmuwan bisa membuktikan ‘waktu’ bukan konsep universal manusia.

"Kini kita tahu ada suku yang belum memiliki konsep waktu yang bisa diukur, dihitung atau dibicarakan secara abstrak,” ujarnya.

Seperti dikutip Daily Mail, bukan berarti suku Amondawa terasing dari waktu, mereka hanya lebih mengenal ‘kejadian’ dibanding waktu, lanjutnya lagi.

Tim yang juga berisi ahli bahasa Wany Sampaio dan antropolog Vera da Silva Sinha menghabiskan delapan pekan bersama suku ini guna mencari tahu cara mereka mengonsep waktu, termasuk ‘pekan depan’ atau ‘tahun lalu’.

Tim menemukan, suku ini hanya mengenal konsep siang dan malam atau musim hujan dan musim kering. Selain itu, tim juga menemukan, anggota komunitas Amondawa tak memiliki usia, usia digantikan dengan mengubah nama.

Misalnya, seorang anak akan memberi nama pada saudaranya yang baru lahir dan kemudian mencarikan nama baru ketika mulai dewasa. Suku Amondawa pertama kali bersentuhan ‘dunia luar’ pada 1986 dan sebenarnya suku tak benar-benar tertutup dari peradaban modern.

Buktinya, meski terus hidup sederhana dengan berburu, memancing dan bertani, mereka juga sudah mengenal listrik dan televisi. Selain itu, suku ini juga mengadopsi bahasa Portugis. Alhasil, suku ini mulai jarang menggunakan bahasa tradisional mereka.

Dalang Pendorong Kepunahan Amfibi


Pendorong kepunahan binatang amfibi terungkap. Jamur beracun berbahaya menginfeksi katak dan salamander. Hal ini menyebabkan penurunan tajam populasi amfibi di dunia.

Para ilmuwan di San Francisco State University mengatakan, jamur beracun yang dikenal sebagai chytrid merupakan penyebab kematian yang dominan di banyak spesies amfibi.

San Francisco Chroniclemelaporkan, survei internasional menemukan, kepunahan massal amfibi secara mencolok terjadi di mana-mana. Sekitar 40% seluruh spesies amfibi menurun, dan hampir 500 spesies terdaftar sebagai ‘hewan terancam punah’.

Untuk mengetahui bagaimana jamur ini berperan dalam penurunan populasi amfibi, mahasiswa pascasarjana biologi San Francisco State Tina Cheng menerapkan teknik laboratorium yang biasa digunakan untuk menganalisa DNA pada jaringan hidup.

Teknik yang dikenal dengan sebutan PCR (polymerase chain reaction) ini digunakan Cheng untuk mendeteksi bukti nyata DNA jamur chytridpada kulit spesimen amfibi yang baru dikumpulkan dan pada spesimen museum tua yang dikumpulkan selama wabah penyakit jamur di Amerika Tengah 40 tahun lalu.
Cheng mengatakan, telah menguji lebih dari seribu spesimen untuk mencari bukti keberadaan jamur Batrachochytrium dendrobatidis atau dikenal sebagai Bd.

"Kami mendokumentasikan penyebaran penyakit ini," katanya.

Hal yang sangat mengkhawatirkan adalah, Bd menyerang spesies tang terancam punah.

Kimia Laut Kian Mengancam Biota Laut


Meningkatnya asam laut bisa mengancam abalone yang merupakan spesies terancam. Hewan ini masuk kategori makanan laut mewah. Seperti apa?

Abalone utara bisa ditemui di pantai Amerika Utara dari Baja California hingga Alaska. Para peneliti mengatakan, meski perikanan komersial Abalone British Columbia tutup pada 1990 guna melindungi populasinya yang terus berkurang, spesies ini terus berjuang hidup, terutama karena perburuan liar.

Para peneliti University of British Columbia (UBC) berhasil menyelesaikan studi mengenai hal ini. Peneliti mengatakan, hasil studi ini menjadi hal pertama untuk bukti eksperimental langsung perubahan kimia air laut secara negatif mempengaruhi spesies terancam punah ini.

Peningkatan kadar CO2 akibat perubahan iklim bisa membunuh larva abalone dan meningkatkan tingkat kelainan kerang.

“Hal ini cukup menjadi berita buruk, tak hanya dalam hal populasi juga dampaknya pada prospek ekonomi akuakultur dan pesisir,” papar zoolog Profesor Christopher Harley.

Rata-rata tingkat CO2 di laut mencapai 380 bagian per juta. Peneliti mengatakan, hal ini cukup mengkhawatirkan di sepanjang pantai British Columbia, khususnya di akhir musim semi dan awal musim panas saat populasi abalone utara sedang masuk pemijahan.

Monyet Juga Bisa Merasa Menyesal

Written By. Admin on 27 Mei 2011 | 23.01.00

HeadlineManusia mengalami rasa menyesal. Tapi tidak hanya manusia, ternyata monyet juga. 

Para peneliti neurobiologi Universitas Yale,Connecticut, Amerika Serikat, meneliti proses pengambilan keputusan yang dilakukan monyet. Hasil penelitian mereka dipublikasikan di jurnal Neuron edisi 26 Mei.

“Rasa menyesal membantu kita mengenali pilihan yang hasilnya buruk, sehingga kita dapat melihat pilihan lain yang hasilnya lebih baik,” ungkap Daeyeol Lee, professor neurobiologi Universitas Yale.

Manusia cenderung bereaksi menentukan pilihan baru, jika pilihan sebelumnya tidak berhasil. Para peneliti menemukan bahwa seperti halnya manusia, kemampuan menentukan pilihan atas peluang yang lebih baik, juga dimiliki monyet.

Lee dan rekannya Hiroshi Abe mencatat ada suatu aktivitas syaraf otak monyet yang menunjukkan bahwa hewan ini punya rasa menyesal saat kalah dalam suatu permainan.

Rasa menyesal itu membuat mereka memilih cara lain supaya bisa menang. Setelah berhasil menang dalam permainan itu, monyet akan cenderung mengulangi pilihan yang sama supaya menang lagi. Dengan kata lain, monyet memiliki kemampuan memprediksi hasil dari suatu pilihan.

Aktivitas syaraf otak yang bekerja dalam proses ini adalah korteks prefrontal. Bagian inilah bekerja menentukan emosi dan pilihan rasional saat monyet merasa menyesal.

Anggur Tertua yang Ditemukan di China

Written By. Admin on 22 Mei 2011 | 01.48.00

Para arkeolog berhasil menemukan belanga berisi anggur berusia dua ribu tahun. Temuan ini ditemukan di Provinsi Henan, China. Seperti apa?

Secara tak sengaja, temuan ini ditemukan di makam kuno Dinasti Han di Puyang, Provinsi Henan, China. Saat menggali, arkeolog menemukan belanga tembaga
kedap udara tertutup karat. Belanga ini diperkirakan berusia dua ribu tahun.

Para arkeolog mendapati belanga itu berisi minuman yang diduga anggur dengan berat setengah kilogram. Kemudian, para arkeolog menguji cairan itu di laboratorium.Lembaga berbasis Chinese Academy of Science Beijing Mass Spectrum Center.

Para peneliti pun mendapat kepastian cairan itu adalah anggur. Para arkeolog kemudian mengklaim temuan ini sebagai anggur tertua di China yang pernah ditemukan.

  KesehatanMore »  

  Serba SerbiMore »  

  Komputer More »  

Sains

More on this category »

  Fashion More »  

 
© Copyright Indo Poster 2012 | Published by Borneo Templates | Support Creating Website | Powered by Blogger.com.