|

Games

More on this category »
  Musik

More on this category »

Blogger

More on this category »
  Wira Usaha

More on this category »

Misteri

More on this category »

Olah Raga

More on this category »
Posting Terbaru

Jamur yang Dapat Menyuburkan

Written By. Admin on 1 Juni 2011 | 00.33.00


Cara yang umum dilakukan petani untuk menyuburkan tanaman adalah dengan memberi pupuk. Namun sekarang telah ditemukan jamur yang dapat menyuburkan tanaman. 

Menurut penelitian yang dipresentasikan di General Meeting of the American Society for Microbiology ke-111 di New Orleans, 23 Mei lalu, jamur itu bernama jamur mycorrhizal. Kerja jamur ini lebih efektif ketimbang pupuk.

Di tengah pesatnya perkembangan jumlah penduduk, manusia harus menemukan cara-cara untuk membuat produk pangan berkembang pesat pula. Ian Sanders, peneliti Universitas Lusanne, Switzerland, yakin bahwa jamur ini akan menciptakan revolusi dunia pertanian.

Ini karena jamur mycorrhizaldapat bersimbiosis dengan akar tanaman, sehingga ia dapat berperan sebagai penyedia nutrisi fosfat. Fosfat adalah komponen terpenting untuk menyuburkan tanaman. Jamur ini dapat menyerap banyak fosfat sebagai cadangan makanan bagi tanaman.

"Kandungan fosfat yang minim biasanya diatasi dengan memberi pupuk fosfat. Padahal harga pupuk fosfat terus meningkat karena tingginya permintaan," ungkap Sanders.

Jamur mycorrhizal dapat mengatasi masalah itu.

Mendinginkan Server dengan Air Laut


Google memanfaatkan air laut untuk mendinginkan server pusat data mereka di Hamina, Finlandia.

Google serius menerapkan efisiensi energi di perusahaannya. Tingkat pemanasan yang tinggi di dalam kantor pusat data Google di Finlandia, mereka tangani dengan menggunakan teknologi pendingin dengan air laut. Cara ini diterapkan menyusul kebijakan baru Google untuk menerapkan green-IT.

Joe Kava, pimpinan senior Konstruksi dan Operasi Data Google menjelaskan, bangunan yang dibeli pada 2009 itu aslinya adalah pabrik kertas yang dilengkapi terowongan granit untuk menyedot air. Terowongan itu mereka gunakan kembali.

Air disedot dan mendinginkan mesin server, lalu air yang panas dilepaskan kembali ke laut. Namun sebelum dilepaskan, air itu dicampur dulu dengan air laut untuk menetralisasi suhunya, agar dampak lingkungannya tidak terlalu besar.

Untuk menerapkan teknologi semacam itu pada bangunan kantor, Google juga membayar Ingenhoven Architects untuk mendirikan bangunan kantor yang ‘hijau’.

Kimia Laut Kian Mengancam Biota Laut


Meningkatnya asam laut bisa mengancam abalone yang merupakan spesies terancam. Hewan ini masuk kategori makanan laut mewah. Seperti apa?

Abalone utara bisa ditemui di pantai Amerika Utara dari Baja California hingga Alaska. Para peneliti mengatakan, meski perikanan komersial Abalone British Columbia tutup pada 1990 guna melindungi populasinya yang terus berkurang, spesies ini terus berjuang hidup, terutama karena perburuan liar.

Para peneliti University of British Columbia (UBC) berhasil menyelesaikan studi mengenai hal ini. Peneliti mengatakan, hasil studi ini menjadi hal pertama untuk bukti eksperimental langsung perubahan kimia air laut secara negatif mempengaruhi spesies terancam punah ini.

Peningkatan kadar CO2 akibat perubahan iklim bisa membunuh larva abalone dan meningkatkan tingkat kelainan kerang.

“Hal ini cukup menjadi berita buruk, tak hanya dalam hal populasi juga dampaknya pada prospek ekonomi akuakultur dan pesisir,” papar zoolog Profesor Christopher Harley.

Rata-rata tingkat CO2 di laut mencapai 380 bagian per juta. Peneliti mengatakan, hal ini cukup mengkhawatirkan di sepanjang pantai British Columbia, khususnya di akhir musim semi dan awal musim panas saat populasi abalone utara sedang masuk pemijahan.

Gas Rumah Kaca Picu Kepunahan Serupa Prasejarah


Kepunahanan massal kehidupan laut selama zaman prasejarah bisa terjadi kembali, karena kadar gas rumah kaca di lautan kian tinggi. Seperti apa?

Ilmuwan Newcastle University menggunakan inti sampel hasil pengeboran dasar laut teluk Afrika barat. Penelitian sampel itu dilakukan guna mempelajari ‘efek rumah kaca laut’ yang terus menggerogoti oksigen (O2) dengan meningkatkan karbon dioksida (CO2) dan suhu.

Saat mempelajari lapisan sedimen 85 juta tahun silam itu, ilmuwan menemukan bukti signifikan kehidupan laut kuno terkubur dalam lapisan sedimen tak beroksigen.

Salah seorang ilmuwan mengatakan, temuan ini sangat relevan dengan kondisi Bumi saat ini. “Kita tahu ‘zona mati’ meluas dengan cepat dan jumlahnya terus bertambah di seluruh dunia,” ujar profesor Thomas Wagner dari Newcastle University.

Area ini merupakan area yang kekurangan O2 dan menderita akibat meningkatnya CO2, suhu serta habisnya nutrisi agrikultur dan faktor lainnya, lanjutnya.

Bukti ini merujuk pada kematian massal di lautan saat Bumi mengalami efek rumah kaca. "Hal mengkhawatirkannya, hanya ada sedikit perubahahan alami yang memicu hipoksia laut dalam,” papar Martin Kennedy dari University Adelaide.

Perubahan ini terjadi begitu cepat, bukan lagi dalam kategori lambat, lanjutnya lagi. Artinya, laut di Bumi merespon gas rumah kaca dengan melakukan perubahan suhu dan tingkat CO2.

Penyebab Hilangnya Bangsa Viking

Pada abad ke-12, bangsa Viking menghilang dari Greenland. Kini para ilmuwan mengetahui kemungkinan penyebab bangsa tersebut menghilang. Apa itu?

Perubahan suhu menjadi dingin secara mendadak di abad 12 menjadi penyebab hilangnya bangsa ini.
Rekonstruksi suhu dari pemeriksaan inti sedimen danau di Greenland barat yang diperkirakan berusia 5.600 tahun itu mengindikasi, pemukim prasejarah itu menghadapi perubahan iklim ganas di Greenland yang diliputi es.

“Iklim sangat berperan pada hilangnya bangsa Viking dari Greenland,” ungkap Brown University (BU). BU juga menemukan, rata-rata suhu jatuh di titik empat derajat Celsius. Perubahan ini berdampak besar pada hasil panen serta ternak.

“Terdapat tren pendinginan pasti di wilayah ini sebelum orang Norwegia itu menghilang,” ungkap pemimpin studi yang hasil studinya diterbitkan di jurnal Proceedings of the National of Sciences, William D’Andrea dari BU.

Peneliti memindai tulisan atau sisa arkeologis guna mengetahui mengapa bangsa Viking meninggalkan koloninya di barat pulau pada pertengahan 1300 dan koloni di timur pada awal 1400.

Konflik dengan adat Inuit, pencari tempat berburu yang lebih baik, tekanan ekonomi dan perubahan iklim mungkin menyebabkan pergeseran output matahari atau letusan gunung berapi,

“Semua hal tersebut bisa menjadi faktornya,” tutupnya.

  KesehatanMore »  

  Serba SerbiMore »  

  Komputer More »  

Sains

More on this category »

  Fashion More »  

 
© Copyright Indo Poster 2012 | Published by Borneo Templates | Support Creating Website | Powered by Blogger.com.